POLARISABILITAS
Polarisabilitas merupakan kemampuan suatu molekul untuk membentuk dipol
sesaat dan dipol terimbaskan, dipol sesaat yaitu kondisi dimana terjadinya
proses perpindahan elektron sehingga mengakibatkan molekul non polar menjadi
polar sesaat (sementara) sedangkan dipol terimbaskan yaitu dipol sesaat yang
mengimbas molekul disekitarnya sehingga
terjadi gaya tarik antara molekul yang lemah. Polarisabilitas ini salah satunya
dipengaruhi oleh jumlah Mr dari senyawa. Apabila Mr dari suatu seyawa tinggi
maka suhunya tinggi dan polarisabilitasnya juga tinggi dan sebaliknya.[1]
“Jika Mr semakin besar,
molekul semakin mudah mengalami polarisasi, Semakin mudah molekul mengalami
polarisasi, semakin tinggi titik didih dan titik lelehnnya. Oleh karena itu semakin
besar Mr semakin besar titik didih dan titik lelehnya dan polarisabilitas
semakin besar”[2]
Selain itu
juga apabila suatu senyawa memiliki rantai yang panjang dan lurus maka senyawa
tersebut memiliki pilarisabilitas yang tinggi.
Polarisabilitas atau tingkat polarisasi suatu senyawa juga dipengaruhi
oleh keelektronegatifan dari senyawa tersebut. Apabila senyawa tersebut
memiliki selisih keelektronegatifan antar molekulnya besar maka senyawa
tersebut dikatakan senyawa polar. Selain itu, ketidaksimetrisan bentuk molekul
juga menyebabkan senyawa bersifat polar. Muatan elektron yang tidak seimbang
pada atom dalam senyawa polar mengakibatkan terjadinya suatu kutub (dipol). molekul
polar mempunyai dwi kutub karena pusat muatan atau pol positif (δ+) terpisah dari
pusat muatan atau pol negatif (δ-).[5]
Oleh karena itu, pasangan elektron yang digunakan untuk membentuk ikatan
kovalen polar lebih tertarik pada salah satu atom. Senyawa nonpolar yaitu
senyawa yang terdiri dari atom sejenis seingga muatannya terdistribusi secara
simetris. Contohnya H2 atau CH4.[3]
Harga
elektronegativitas atom-atom dalam molekul nonpolar sama, sehingga muatan
elektronnya terdistribusi merata. Oleh karena itu, molekul nonpolar tidak
membentuk kutub. Pasangan elektron senyawa nonpolar mengakibatkan bentuk
molekul simetri sehingga dipol-dipol ikatannya saling meniadakan.[3]
GAYA LONDON
Gaya London
merupakan gaya yang ditimbulkan karena adanya dipol terimbas antara molekul
nonpolar sehingga menyebabkan adanya perpindahan elektron dari satu orbital
yang lain membentuk dipol sesaat. Gaya London ini mengakibatkan molekul
nonpolar yang bersifat agak polar. Gaya London ini meningkat seiring dengan
bertambahnya jumlah electron dan meningkatnya jumlah Mr.
Jensi gaya
tarik yang sangat lemah ini pada umumnya terjadi diantara molekul-molekul
kovalen nonpolar, seperti N2, H2, atau CH4.[4]
Gambar
dipol sesaat :
Gambar
dipol terimbas :
DAFTAR PUSTAKA
[1] https://www.scribd.com/doc/308601872/Interpretasi-Hasil-Deskriptor-qsar
[2] https://www.scribd.com/search?page=1&content_type=tops&query=polarisabilitas
[5] http://einstein-chemist.blogspot.co.id/2009/10/ikatan-kiima-tolakan-antar-pasangan.html


terimakasih atas materinya, sangat bermanfaat..
BalasHapusTerima kasih atas materinya, sangat bermanfaat dan membantu sebagai referensi ;)
BalasHapusTerimakasih atas publikasi nyaa, bermanfaat
BalasHapusterimakasih materinya sangat bermanfaat
BalasHapussama-sama semoga dapat membantu :)
HapusTerimakasih atas materinya sangat membantu. saya ingin bertanya bagaimana polarizabilitas pada senyawa organik ya ?..trmksh
BalasHapusterimakasih atas pertanyaannya,, Polarisabilitas merupakan kemampuan suatu molekul untuk membentuk dipol sesaat dan dipol terimbaskan, polarisabilitas ini dipengaruhi oleh jumlah Mr, bentuk molekul, suhu dan keelektronegatifan dari senyawa organik.Molekul yang bentuknya panj ang lebih mudah mengalami polarisasi dibandingkan molekul yang kecil, kompak, dan simetris. :)
Hapusterimakasih materinya sangat menbantu, untuk polarisabilitas ini sendiri bagaimanakah aplikasinya dalam bidang kimia ?
BalasHapusterimakasih atas pertanyaannya, untuk aplikasi polarisabilitas ini dalam bidang kimia yaitu contohnya untuk membuat suatu senyawa yang memiliki tingkat kepolaran kecil sehingga susah larut didalam menjadi memiliki kepolaran besar, contohnya dengan menambahkan zat seperti emulgator, sehingga senyawa yang susah larut dalam air akan menjadi mudah larut. jika dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari seperti saat menggunakan deterjen untuk mencuci piring agar dapat menghilangkan lemak sehingga lemak dapat larut dalam air.
Hapus