KIMIA ORGANIK FISIK
Kimia organik fisik
merupakan ilmu kimia yang mempelajari
atau mengkaji aspek fisik dari suatu senyawa organik. Kimia organik adalah
percabangan studi ilmiah dari ilmu kimia mengenai struktur, sifat, komposisi,
reaksi, dan sintesis senyawa organik. Senyawa organik dibangun oleh karbon dan
hidrogen, dan dapat mengandung unsur-unsur lain seperti nitrogen, oksigen,
fosfor, halogen dan belerang.
Konsep-konsep yang diperlukan dalam mempelajari struktur
molekul senyawa organik yaitu sebgai berikut :
- Elektronegativitas
- Ikatan hidrogen
- Gaya Van der Waals
- Polarizabilitas
- Gugus fungsi
- Efek induksi
- Resonansi
- Hiperkonyugasi
- Tautomeri
- Regangan ruang
1.
Elektronegativitas
Elektronegativitas
didefinisikan sebagai tenaga dari suatu atom dalam suatu molekul untuk menarik elektron.
Elektronegativitas adalah suatu konsep yang dimunculkan oleh kimiawan sebagai
hasil pengembangan dari fenomena moment dipole permanen yang ditimbulkan oleh
molekul-molekul asimetris. Metode untuk
menetapkan skala elektronegativitas atom-atom adalah skala Pauling yang mana
skala ini berdasar pada data termodinamika.
Skala
Pauling memberikan ukuran yang baik dari jenis ikatan atom yang akan terbentuk.
Secara
umum, elektronegativitas meningkat dari kiri ke kanan tabel periodik dan
menurun dari atas ke bawah. Perbedaan
elektronegatif antara dua atom non-logam relatif kecil sehingga cenderung
membentuk ikatan kovalen. Sebuah
atom non-logam dan atom logam membentuk ikatan ionik karena perbedaan
elektronegatif besar.
2. Ikatan Hidrogen
Ikatan
hidrogen adalah jenis khusus interaksi dipol-dipol
antara atom hidrogen dalam ikatan polar, seperti ikatan terjadi pada
senyawa-senyawa seperti HF, H2O, dan NH3. Sebagai contoh antar molekul HF
dengan molekul H2O, H2O – H2O, HF-HF, H2O-NH3, dst-dst. Iktan hidrogen trjdi
ketika ada molekul F, N, O yg memiliki psangan e- bebas. pasangan e bebas tdi
menarik satu/beberapa atom H dari molekul lain yang akhirnya membentuk ikatan
Hidrogen satu sama lain. Kekuatan ikatan hidrogen ini dipengaruhi oleh
perbedaan elektronegativitas antara atom-atom dalam molekul tersebut. Semakin
besar perbedaannya, semakin besar ikatan hidrogen yang terbentuk. [1]
3.
Ikatan Van Der Waals
Ikatan
van der walls merupakan gaya tarik antar molekul akibat tarikan dipol-dipol, baik
tarikan dipol permanen (pada senyawa polar) maupun dipol terinduksi (pada
senyawa polar dan non polar). Kekuatan ikatan van der walls ditentukan oleh :
1. jari-jari/ukuran molekul
2. kepolaran
molekul
Umumnya,
pengaruh jari-jari (pengaruh induksi) lebih dominan dibandingkan pengaruh
kepolaran. Khusus gaya tarik yang disebabkan oleh dipol terinduksi, sering
dinamakan dengan gaya London. Salah satu sifat yang dapat dijelaskan dengan
ikatan Van der Waals adalah titik leleh/didih senyawa.
Senyawa-
senayawa yang mempunyai ikatan Van der Waals akan mempunyai titik didih yang
sangat rendah, tetapi dengan bertambahnya Mr ikatan akan makin kuat sehingga
titik didih lebih tinggi. Contohnya titik didih C4H10 > C3H8 > C2H6 >
CH4 >.[3]
Contoh:
gaya tarik antar molekul H2S, HCl, I2(s), Br2(l)
4.
Polarizabilitas
Pergerakan
elektron yang mengakibatkan dipol sesaat dalam suatu molekul disebut
polarisabilitas. Pergerakan elektron yang mengakibatkan dipol sesaat dalam
suatu molekul akan bertambah besar apabila molekul tersebut memiliki jumlah
elektron yang semakin besar pula. Didalam polarizabilitas memiliki aturan
sebagai berikut :
Mr
senyawa tinggi = suhu tinggi = polarisabilitas tinggi
Rantai
senyawa panjang dan lurus = polarisabilitas tinggi. [4]
5.
Gugus Fungsi
Gugus fungsional
adalah sekelompok atom (dua atau empat atom) dalam molekul yang
bertanggung-jawab terhadap reaksi kimia karakteristik molekul tersebut. Gugus
fungsi merupakan bagian aktif dari senyawa karbon yang menentukan sifat-sifat
senyawa karbon. Senyawa-senyawa karbon yang mempunyai gugus fungsional yang
sama dikelompokkan dalam satu golongan.
Perbedaan
gugus fungsi ini mengakibatkan perbedaan sifat dari masing-masing
senyawa,walaupun memiliki unsur dasar yang sama yaitu karbon.[5]
6.
Efek Induksi
induktif
adalah tarikan kerapatan elektron melalui obligasi disebabkan oleh perbedaan
elektronegativitas dalam atom. Efek induksi juga merupakan aksi elektrostatik
yang diteruskan melalui rantai atom dalam suatu molekul (lewat ikatan σ). Dan
efek itu dapat dinyatakan sebagai I + dan I –
I +
jika subtituen yang terikat mendorong elektron ( melepaskan e - )
I -
jika subtituen yang terikat menarik Elektron ( mengambil e - )
Efek
induksi dari gugus yang terikat pada rantai R dari asam karboksilat (gugus
COOH) posisi gugus menentukan besarnya efek induksi yang diberikan.
7.
Resonansi
Resonansi
merupakan suatu molekul yang memiliki stuktur molekul kimia yang sama namun
konfigurasi elektronnya berbeda. Perbedaan energi antara molekul yang sebenarnya
dengan energi struktur Lewis yang terendah energinya bisa disebut juga energi
resonansi. Beberapa molekul mempunyai lebih dari satu kemungkinan struktur
Lewis. Dalam metode ikatan valensi, untuk melukiskan struktur yang sebenarnya
dari molekul semacam ini, beberapa struktur Lewis (bentuk kanonik) dituliskan,
kemudian diambil bobot rata-rata mereka. Bobot rata-rata dari dua bentuk atau
lebih disebut resonansi.[6]
8.
Hiperkonyugasi
Hiperkonjugasi disebut juga sebagai
resonansi tanpa ikatan. Hiperkonjugasi merupakan Konyugasi antara ikatan C-H
dengan elektron p, peb atau orbital kosong yang delokalisasinya melibatkan
elektron σ. Hiperkonjugasi dapat meningkatakan kestabilan molekul dengan
semakin banyaknya Hα maka suatu molekul tersebut akan semakin stabil. Efek dari
hiperkonjugaasi ini yaitu perubahan dari suatu ikatan C-H menjadi ikatan C=C
atau C≡C oleh Hα.
Hiperkonjugasi
di atas dapat dipandang sebagai overlap antara orbital σ ikatan CH dengan
orbital π ikatan C=C, analog dengan overlap π-π. [6]
9.
Tautomeri
Tautomer
merupakan suatu senyawa karbonil dengan suatu hidrogen alfa yang bersifat asam
dan dapat berada dalam dua bentuk yaitu tautomer keto dan sebuah tautomer enol.
Sedangkan tautomeri adalah perpindahan atom dalam satu molekul menjadi isomer.
Di dalam peristiwa tautomeri ada proton yang berpindah dari satu atom dalam
satu molekul ke atom yang lain menjadi molekul lain.
Bentuk
tautomeri yang paling umum adalah tautomeri antara senyawa karbonil
yang
mengandung hidrogen-α dengan bentuk enolnya.
Bentuk
keto berbeda dari bentuk enol dalam hal pemilikan ikatan C-H, C-C, dan C=O, di
mana enol mempunyai ikatan C=C, C-O, dan O-H. Jika R mengandung ikatan rangkap
yang dapat berkonjugasi dengan ikatan rangkap enol, jumlah enol menjadi besar
dan bahkan bisa menjadi dominan. Ester mempunyai enol yang lebih banyak
daripada keton. Keberadaan enol sangat dipengaruhi oleh pelarut, konsentrasi,
dan suhu. [6]
10.
Regangan ruang
Regangan
ruang adalah besarnya regangan pada struktur senyawa kimia berbentuk siklik
untuk menunjukkan seberapa besarnya regangan ruang dari cicin siklik tersebut.
Dimana tabel data mengenai regangan ruang dapat dilihat pada tabel berikut :
Permasalahan
:
faktor apa saja
yang mempengaruhi polarisabilitas pada suatu molekul, apabila berat molekul
mempengaruhi polarisabilitas bagaimana perbandingan gaya london antara 2 molekul
yang memiliki berat molekul yang sama ?
DAFTAR PUSTAKA
Ferguson, L. N., 1966, The Modern
Structural Theory of Organic Chemistry, Prentice-Hall of India (Private) LTD,
New Delhi.
March, J., 1985, Advanced Organic
Chemistry – Reactions, Mechanisms, and Structure,3rd Edition, New
York.
Bagaimana hubungan efek induksi dengan mesomeri?
BalasHapusmesomeri dapat mempengaruhi pergerakan elektron didalam suatu senyawa sedangkan efek induksi itu tidak mempengaruhi pergerakan elektron didalam suatu senyawa. hubungan antara mesomeri dan efek induksi dalam suatu senyawa yaitu dapat mengakibatkan sifat keasaman dan kebasaan suatu senyawa tersebut.
HapusEfek mesomerik, mirip dengan efek induksi, efeknya terpolarisasi secara ermanen dalam keadaan dasar molekul, dan oleh karena itu dinyatakan dalam sifat fisika senyawanya. Mesomeri hanya dapat terjadi pada senyawa tak jenuh, namun efek induktif dapat terjadi pada senyawa jenuh maupun tak jenuh. Efek induksi hanya terbatas pada jarak yang terbatas, sedangkan efek mesomeri dapat terjadi sepanjang molekul masih menyediakan system terkonjugasi.
Boleh dapat lebih dijelaskan bagaimana bisa terjadinya dipol sesaat pada polarisabilitas dengan menggunakan contoh senyawanya?
BalasHapusPergerakan atau perpindahan elektron pada suatu atom dapat mengakibatkan tidak meratanya kepadatan elektron pada atom, sehingga atom tersebut mempunyai satu sisi dipol dengan muatan lebih negatif dibandingkan sisi yang lain. Pergerakan ini menimbulkan dipol sesaat. Pergerakan elektron yang mengakibatkan dipol sesaat dalam suatu molekul disebut polarisabilitas.
BalasHapusuntuk contoh senyawa yang mengalami polarisabilitas salah satunya yaitu pada senyawa n-pentana
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusfaktor yang mempengaruhi polarisabilitas dari suatu molekul salah satunya yaitu massa molekul relatif (mr) dimana semakin besar MR maka polarisabilitasnya semakin besar pula dan gaya londonnya srmakin besar
BalasHapusSore Nur, perkenalkan ini dari fakultas Peternakan, tetanggaan kita, hehe. saya akan mencoba menjawab. faktor yang mempengaruhi polarisabilitas molekul salah satunya Mr, dimana smakin besar Mr suatu molekul maka polarisabilitas semakin besar dan gaya londonnya smakin besar pula.
BalasHapusFaktor lainnya yaitu suhu, keelektronegatifan dan momen dipol senyawanya.
Semoga membantu, semangat dan sukses selalu. :D
molekul dengan struktur panjang mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mengalami dipol sesaat atau lebih mudah mengalami polarisabilitas. hal ini dikarenakan molekul dengan struktur panjang mempunyai bidang yang lebih luas dibandingkan dengan molekul yang memiliki struktur lebih rapat dan kecil. contohnya pada molekul neopentana dan n-pentana karena memiliki berat molekul yang sama.
BalasHapus