Senin, 28 November 2016

EFEK INDUKSI



EFEK INDUKSI
Efek iduksi merupakan suatu tarikan dari kerapatan elektron yang melalui obligasi σ yang disebabkan oleh perbedaan elektronegatifitas dalam suatu atom. [1]  Efek induksi sangat kecil  jika dibandingkan dengan efek mesomeri dikarenakan adanya electron σ kurang dapat terpolarisasi dan oleh karenanya kurang siap untuk bergeser daripada electron π. Efek induksi hampir sama dengan efek mesomeri efeknya terpolarisasi secara permanen dalam keadaan dasar molekul. Mesomeri dapat terjadi pada senyawa yang tak jenuh (yang memiliki ikaan rangkap) namun efek induktif dapat terjadi pada senyawa jenuh (tidak memiliki ikatan rangkap) maupun tak jenuh (memiliki ikatan rangkap). Efek induksi hanya terbatas pada jarak yang terbatas namun efek mesomeri terjadi di sepanjang molekul yang masih menyediakan system terkonjugasi.[2]
Dalam suatu ikatan kovalen tunggal dari atom yang tak sejenis, pasangan electron yang membentuk ikatan sigma, tidak pernah terbagi secara merata diantara kedua atom dimana electron mempunyai kecendrungan untuk dapat tertarik sedikit ataupun banyak kearah atom yang lebih elektronegatif dari keduanya :
                         
Efek induksi bisa juga didefinisikan sebagai suatu aksi elektrostatik yang diteruskan melalui rantai atom dalam suatu molekul (lewat ikatan σ) Dan efek itu dapat dinyatakan sebagai I + dan I – seperti gambar diatas. [3]
·      I + jika subtituen yang terikat mendorong elektron ( melepaskan e - )
 Contoh gugus dan atom yang memiliki efek – I: NO2, F, Cl, Br, I, OH, C6H5-.
·      I - jika subtituen yang terikat menarik Elektron ( mengambil e - )
 Contoh gugus dan atom yang memiliki efek +1 : (CH3)3C-, (CH3)2CH-, CH3CH2-,       CH3-.
                             
Efek induksi bekerja melalui ruang dan ikatan sigma. Makin jauh letak gugus/atom yang memiliki efek induksi maka makin kecil juga pengaruhnya terhadap polarisasi ikatan.
                      
Efek induksi dari gugus yang terikat pada rantai R dari asam karboksilat (gugus COOH) posisi gugus menentukan besarnya efek induksi yang diberikan.  
                   

Contohnya :
1. Efek induksi karena perbedaan keelektronegatifitas :
                          
Alasan untuk peningkatan keasaman 2,2,2-Trifluoroethanol bahwa tiga atom fluorin elektronegatif menstabilkan basa konjugat bermuatan negatif. Elektronegatif suatu atom dapat menstabilkan daerah yang kerapatan elektron tinggi karena efek dari elektron penarik efek induksi lebih ke atom dengan  elektronegatifan tinggi dan semakin dekat dengan muatan negatif, maka semakin besar efek induksinya . Keasaman H-A meningkat dengan kehadiran gugus penarik elektron di A.
2. 
                           
Dari gambar diatas asam metanoat lebih asam dari asam etanoat karena  asam etanoat terdapat gugus metil yang mempunyai kemampuan mendorong elektron ikatan melalui ikatan sigma  (C-C-O-H) sehingga atom O menjadi relatif makin negatif, akibatnya atom H sukar lepas sebagai H+, asamnya menjadi lebih lemah. 
Gugus CH3  mempunyai efek induksi mendorong elektron, diberi simbol +I.
Asam alfamonoflouroetanoat lebih asam dari asam metanoat karena pada  asam alfa monoflouroetanooat terdapat gugus F yang mempunyai kemampuan menarik elektron ikatan melalui ikatan sigma sehingga atom O menjadi relatif makin positif, akibatnya atom H makin mudah lepas sebagai H+, asamnya menjadi lebih kuat.
Gugus F mempunyai efek induksi menarik elektron diberi simbol –I [5]
                        
DAFTAR PUSTAKA
4.    March, J., 1985, Advanced Organic Chemistry – Reactions, Mechanisms, and Structure,3rd Edition, New York.