EFEK INDUKSI
Efek iduksi
merupakan suatu tarikan dari kerapatan elektron yang melalui obligasi σ yang
disebabkan oleh perbedaan elektronegatifitas dalam suatu atom. [1] Efek induksi sangat kecil jika dibandingkan dengan efek mesomeri
dikarenakan adanya electron σ kurang dapat terpolarisasi dan oleh karenanya
kurang siap untuk bergeser daripada electron π. Efek induksi hampir sama dengan
efek mesomeri efeknya terpolarisasi secara permanen dalam keadaan dasar
molekul. Mesomeri dapat terjadi pada senyawa yang tak jenuh (yang memiliki
ikaan rangkap) namun efek induktif dapat terjadi pada senyawa jenuh (tidak
memiliki ikatan rangkap) maupun tak jenuh (memiliki ikatan rangkap). Efek induksi
hanya terbatas pada jarak yang terbatas namun efek mesomeri terjadi di
sepanjang molekul yang masih menyediakan system terkonjugasi.[2]
Dalam suatu
ikatan kovalen tunggal dari atom yang tak sejenis, pasangan electron yang
membentuk ikatan sigma, tidak pernah terbagi secara merata diantara kedua atom
dimana electron mempunyai kecendrungan untuk dapat tertarik sedikit ataupun
banyak kearah atom yang lebih elektronegatif dari keduanya :
Efek induksi bisa juga didefinisikan sebagai suatu
aksi elektrostatik yang diteruskan melalui rantai atom dalam suatu molekul
(lewat ikatan σ) Dan efek itu dapat dinyatakan sebagai I + dan I – seperti
gambar diatas. [3]
·
I
+ jika subtituen yang terikat mendorong elektron ( melepaskan e - )
Contoh gugus
dan atom yang memiliki efek – I: NO2, F, Cl, Br, I, OH, C6H5-.
·
I
- jika subtituen yang terikat menarik Elektron ( mengambil e - )
Contoh gugus
dan atom yang memiliki efek +1 : (CH3)3C-, (CH3)2CH-, CH3CH2-, CH3-.
Efek induksi
bekerja melalui ruang dan ikatan sigma. Makin jauh letak gugus/atom yang
memiliki efek induksi maka makin kecil juga pengaruhnya terhadap polarisasi
ikatan.
Efek induksi
dari gugus yang terikat pada rantai R dari asam karboksilat (gugus COOH) posisi
gugus menentukan besarnya efek induksi yang diberikan.
Contohnya :
1. Efek
induksi karena perbedaan keelektronegatifitas :
Alasan
untuk peningkatan keasaman 2,2,2-Trifluoroethanol bahwa tiga atom fluorin
elektronegatif menstabilkan basa konjugat bermuatan negatif. Elektronegatif suatu
atom dapat menstabilkan daerah yang kerapatan elektron tinggi karena efek dari elektron
penarik efek induksi lebih ke atom dengan
elektronegatifan tinggi dan semakin dekat dengan muatan negatif, maka
semakin besar efek induksinya . Keasaman H-A meningkat dengan kehadiran gugus
penarik elektron di A.
2.
Dari gambar
diatas asam metanoat lebih asam dari asam etanoat karena asam etanoat terdapat gugus metil yang
mempunyai kemampuan mendorong elektron ikatan melalui ikatan sigma (C-C-O-H) sehingga atom O menjadi relatif
makin negatif, akibatnya atom H sukar lepas sebagai H+, asamnya menjadi lebih
lemah.
Gugus
CH3 mempunyai efek induksi mendorong
elektron, diberi simbol +I.
Asam
alfamonoflouroetanoat lebih asam dari asam metanoat karena pada asam alfa monoflouroetanooat terdapat gugus F
yang mempunyai kemampuan menarik elektron ikatan melalui ikatan sigma sehingga
atom O menjadi relatif makin positif, akibatnya atom H makin mudah lepas
sebagai H+, asamnya menjadi lebih kuat.
Gugus
F mempunyai efek induksi menarik elektron diberi simbol –I [5]
DAFTAR PUSTAKA
4.
March, J., 1985, Advanced Organic Chemistry –
Reactions, Mechanisms, and Structure,3rd Edition, New York.