SINTESIS
MITOMYCINS
Mitomycin
adalah senyawa alami yang diisolasi secara struktural pertama kali pada tahun
1950 oleh ahli mikrobiologi Jepang dari kultur fermentasi mikroorganisme Streptomyces caespitosus.[1]
Hampir
semua jenis senyawa
mitomychins ini menunjukkan aktifitas antibiotik dan
aktivitas antitumor dan kuat melawan
tumor yang resisten terhadap agen antineoplastik lainnya. Salah satu jenisnya yaitu mitomycin C, telah digunakan secara klinis
untuk kemoterapi kanker sejak tahun 1960an karena aktivitas yang luas terhadap
tumor. Selain aktivitas antitumornya,
mitomycin C memiliki variasi yang spesifik terhadap efek biologis pada sel
mamalia atau mikroorganisme, termasuk selektif Penghambatan sintesis DNA, rekombinasi,
kerusakan kromosom, dan induksi perbaikan DNA (respon SOS) pada bakteri.[2] Saat
ini terdapat 17 mitomycin yang diketahui (Gambar 1.1). Hanya mitomycin (6) yang
dilaporkan tidak memiliki aktivitas biologis.
Mitomycin dapat mengalami
interkoneksi, sehingga memudahkan dalam menintesisnya. Sebagai contoh,
mitomisin A (1) dapat dikonversi menjadi Mitomycin C (3) dengan penambahan
amonia metanol. Hidrolisis mitomisin C Diikuti dengan metilasi menghasilkan
mitomycin A. Mitomycin G dapat dibentuk oleh penambahan mitomisin A dengan DBU.
(Gambar 1.3)
Senyawa mitomycin dilaboratorium dapat disintesis melalui
beberapa pendekatan. Seperti salah satunya yaitu dengan menggunakan pendekatan
kishi. Sintesis melalui pendekatan kishi ini merupakan sintesis yang pertama
kali dilakukan oleh kishi pada tahun 1977 setelah ditemukannya senyawa
mitomycin tersebut. Strategi kishi adalah membangun cincin beranggota delapan
secara kimia oleh kuinon melalui intramulekuler michael dengan amina primer,
dan diikuti oleh transannular untuk membentuk cinci B dan C. berikut ini
merupakan keseluruhan mekanisme reaksi sintesis mitomycin melalui pendekatan
kishi :
Apabila mekanisme
reaksi tersebut dipecah maka seperti gambar berikut ini :
a. Pembentukan
senyawa intermediet aromatik
Tahap 1 : senyawa orto dimetoksi toluene
salah satu karbonnya bereaksi dengan dikloro metoksi metana dengan bantuan TiCl4 sebagai
katalis sehingga terikat pada atom C no 4, kemudian terjadi delokalisasi pada
gugus metoksi yang merupakan pengarah orto-para sehingga substituent dikloro
metoksi metana tersubstitusi orto dan Cl akan lepas kembali sehingga
menyebabkan O menjadi rangkap kemudianterbentuk aldehid.
Tahap 2 : reagen yang digunakan yaitu mCPBA
(metacloroperoksibenzoit acid)
yaitu reagen yang mudah membentuk radikal sehingga O bisa masuk karena ada OH
(radikal), terletak diposisi meta karena mudah disubstitusi.
Tahap 3 : tahap ketiga ini melalui 3 step yaitu pertma dengan
reagen NaOMe, kedua reagen MeOH menghasilkan senyawa ester dan ketiga
menggunakan air untuk menghidrolisis ester dan menghasilkan gugus hidroksi atau
senyawa orto-dimetoksi meta-hidroksi toluene.
Tahap 4 : terjadi reaksi substitusi elektrofilik dari 3-bromo-1-propena, dimana H yang terikat pada O akan berikatan kembali
dengan Br- dan mengkibatkan propena tersubstitusi pada O.
Tahap 5 : delokalisasi elektron membentuk gugus keton dan terjadi reduksi menghasilkan senyawa Para
alil dimetoksi Toluena
yang selnjutnya akan mengalami reaksi intermediet aromatic sebagai berikut :
Tahap 6 : pada tahap ke 6 elektron O pada HNO3 akan
berikatan dengan H pada struktur para alil dimetoksi toluene sehingga H lepas
dan membentuk O rangkap pada pada struktur dimetoksi toluene dan kemudian Me
berikatan dengn AcOH dan oksigen membentuk ikatan rangkap.
Tahap 7: gugus ester yang terbentuk kemudian direduksi dengan menggunakan katalis
Zn menjadi gugus alkohol.
Tahap 8: melalui 3 step dengan menggunakan BnBr , K2CO3 (DME/DMF)
dan kemudian direfluks untuk memisahkan pelarutnya. Sehingga proton H lepas dan
digantikan oleh Bn.
Tahap 9: pembentukan cincin epoksida dari dioksan
dan 10: cincin epoksida membuka dan disubstitusikan oleh CH3CN dan menyebabkan O kekurangan elektron sehingga
ditambahkan CrO3- sehingga menghasilkan keton.
b. Pembentukan
cincin medium
Tahap1 : Pada
tahap ini terjadi reaksi substitusi –OMe.
Tahap
2: terjadi reaksi
reduksi dimana CN direduksi oleh LAH menjasi NH2
Tahap
3: gugus
pelindung Bn ini dihilangkan
dengan menggunakan katalis Pd, dimana
karbon
untuk menyerap air dan methanol untuk menjadikan suasana asam.
Tahap
4: dilakukan
pengoksidasian senyawa dengan menggunakan methanol sebagai pelarut.
c. Siklisasi
transannular
pada tahap ini terbentuk
cincin siklik baru dari gugu NH dengan 2 jalan yaitu dengan menggunakan MeOH
dan SiO2 jalan
pertama dan dengan gugus S-Me dan Et3N jalan ke 2. Dengan reaksi sebagai berikut :
DAFTAR
PUSTAKA
1. Hata,
T.; Sano, Y.; Sugawara, R.; Matsumae, A.; Kanamorei, K.; Shima, T.; Hoshi, T.
“Mitomycin,
A New Antibiotic from Streptomyces,” J. Antibiot. Ser. A 1956, 9,
141-146;
2. Mitomycins
and Porfiromycins, Bifunctionally ‘Alkylating’ Antibiotics,” Fed. Proc. 1964,
23, 946-95













